28 Oktober 2026
DBD dan Anak Demam

Banyak orang mengira bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) hanya terjadi saat musim hujan. Alasannya cukup masuk akal, karena hujan dapat menyebabkan banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Namun, kenyataannya DBD tetap dapat terjadi dan bahkan meningkat saat musim kemarau. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa DBD tidak hanya perlu diwaspadai pada musim hujan, tetapi juga pada musim kemarau.

1. Musim kemarau bukan berarti tidak ada tempat untuk nyamuk berkembang biak

Nyamuk Aedes aegypti tidak membutuhkan genangan air yang besar untuk berkembang biak. Sedikit air yang tertampung di ember, bak mandi, pot bunga, botol bekas, ban bekas, kaleng, tempat minum hewan, atau wadah lainnya sudah dapat menjadi tempat bertelur. Karena itu, meskipun lingkungan terlihat kering, masih banyak kemungkinan terdapat tempat penampungan air di sekitar rumah.

2. Saat kemarau, masyarakat justru lebih banyak menyimpan air

Ketika air sulit diperoleh atau pasokan air berkurang, masyarakat biasanya menyimpan air di dalam bak, drum, ember, atau berbagai wadah lainnya. Jika wadah tersebut tidak ditutup rapat dan tidak dibersihkan secara rutin, tempat tersebut dapat menjadi lokasi nyamuk Aedes bertelur. Inilah salah satu alasan mengapa risiko DBD tetap ada pada musim kemarau.

3. Telur nyamuk dapat bertahan dalam kondisi kering

Ini merupakan salah satu hal yang sering tidak diketahui masyarakat. Telur nyamuk Aedes dapat menempel pada dinding bagian dalam wadah dan mampu bertahan dalam kondisi kering selama berbulan-bulan. Ketika wadah tersebut kembali terisi air, telur dapat menetas dan melanjutkan siklus hidupnya. Karena itu, menguras air saja belum tentu cukup jika dinding wadah tidak ikut disikat atau dibersihkan.

4. Nyamuk DBD senang tinggal dekat manusia

Nyamuk Aedes aegypti banyak ditemukan di sekitar rumah dan lingkungan tempat manusia beraktivitas. Nyamuk betina membutuhkan darah untuk menghasilkan telur dan dapat menggigit manusia pada siang hari. Artinya, kita tetap memiliki risiko terkena gigitan nyamuk DBD meskipun sedang tidak berada di luar rumah.

5. DBD tidak ditentukan hanya oleh musim

Munculnya kasus DBD dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya hujan atau kemarau. Kondisi lingkungan, keberadaan tempat perkembangbiakan nyamuk, jumlah nyamuk, suhu, kelembapan, serta keberadaan orang yang sedang membawa virus dengue juga dapat memengaruhi penularan. Karena itu, musim kemarau tidak otomatis membuat risiko DBD menjadi hilang.

6. Satu rumah bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk

Kadang kita merasa lingkungan rumah sudah bersih, tetapi lupa memeriksa tempat-tempat kecil yang dapat menampung air. Misalnya, tatakan pot bunga, ember yang tidak digunakan, botol bekas, mainan anak yang berada di luar rumah, talang air, tempat minum hewan, hingga barang bekas yang berada di halaman. Tempat-tempat kecil tersebut dapat menjadi “rumah” bagi jentik nyamuk.

7. Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk harus dilakukan sepanjang tahun

Pencegahan DBD tidak boleh hanya dilakukan ketika musim hujan atau ketika sudah ada tetangga yang terkena DBD. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) harus dilakukan secara rutin sepanjang tahun. Salah satu langkah sederhana adalah menerapkan 3M Plus, yaitu menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau membuang barang bekas yang dapat menampung air.

8. Jangan lupa memeriksa rumah setiap minggu

Pemeriksaan lingkungan rumah sebaiknya dilakukan minimal seminggu sekali. Periksa bak mandi, drum, ember, pot bunga, talang air, tempat minum hewan, serta barang-barang yang berada di halaman. Wadah yang masih digunakan perlu dikosongkan dan dibersihkan secara rutin, sedangkan barang yang tidak diperlukan sebaiknya dibuang atau disimpan agar tidak dapat menampung air.

9. Lindungi diri dari gigitan nyamuk

Selain memberantas tempat perkembangbiakan, kita juga perlu mengurangi risiko gigitan nyamuk. Gunakan pakaian yang menutupi tubuh, gunakan obat antinyamuk sesuai petunjuk, serta pasang kawat kasa pada pintu atau jendela bila memungkinkan. Perlu diingat, nyamuk Aedes aktif menggigit pada siang hari, sehingga perlindungan tidak hanya diperlukan pada malam hari.

10. Waspadai gejala DBD

Demam tinggi yang muncul secara mendadak dapat menjadi salah satu gejala dengue. Gejala lain dapat berupa sakit kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri di belakang mata, mual, muntah, atau munculnya ruam. Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Jika mengalami demam atau gejala yang mengarah ke dengue, terutama ketika terdapat kasus DBD di lingkungan sekitar, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Jangan menunggu musim hujan untuk mencegah DBD

Jadi, mengapa kasus DBD masih dapat meningkat saat musim kemarau? Karena nyamuk Aedes aegypti tidak bergantung sepenuhnya pada genangan air akibat hujan. Tempat penyimpanan air di rumah, barang bekas, dan wadah kecil yang terisi air dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Bahkan telur nyamuk dapat bertahan dalam kondisi kering dan menetas kembali ketika terkena air.

Pencegahan DBD membutuhkan kerja sama seluruh masyarakat. Jangan hanya membersihkan rumah sendiri, tetapi ajak keluarga, tetangga, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sekitar untuk bersama-sama melakukan PSN. Ingat: kemarau bukan berarti bebas DBD. Jangan beri kesempatan nyamuk berkembang biak di sekitar kita.

Mulai hari ini, luangkan waktu beberapa menit untuk memeriksa tempat-tempat yang dapat menampung air di sekitar rumah. Lebih baik mencegah jentik nyamuk daripada menunggu DBD menyerang.

Referensi

  1. World Health Organization (WHO) – Dengue and severe dengue
  2. World Health Organization (WHO) – Dengue Fact Sheet
  3. Kementerian Kesehatan RI – DBD Menyerang Tak Hanya di Musim Hujan
  4. CDC – How Dengue Spreads
  5. CDC – Mosquito Control at Home
  6. CDC – Life Cycle of Aedes Mosquitoes