Upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Tabak Kanilan terus digalakkan. Melalui kegiatan Rembuk Stunting tingkat desa, tim kesehatan Puskesmas turun langsung mendampingi masyarakat dan perangkat pemerintah di enam desa yang telah melaksanakan kegiatan ini, yaitu Desa Tabak Kanilan, Desa Sarimbuah, Desa Kayumban, Desa Baruang, Desa Ruhing Raya dan Desa Wungkur Baru.
Pendekatan turun ke lapangan ini melibatkan kolaborasi lintas profesi yang komprehensif. Tim yang diterjunkan terdiri dari dokter, ahli gizi, perawat, bidan dan tenaga kesehatan desa setempat, guna memastikan masalah stunting dibahas dari berbagai sudut pandang medis.
Dalam forum Rembuk Stunting tersebut, Puskesmas Tabak Kanilan tidak sekadar memaparkan data kesehatan, tetapi juga memberikan edukasi dan usulan intervensi gizi spesifik yang berdampak langsung.
Terdapat dua usulan utama yang ditekankan sebagai langkah pencegahan dan penanganan stunting, yakni pemberian ekstra protein hewani berupa dua butir telur setiap hari, serta suplementasi Vitamin D sesuai dengan kebutuhan balita .
Pendekatan ini dipilih berdasarkan landasan medis yang kuat.
Ahli Gizi Puskesmas Tabak Kanilan, Rizke Berlian Cintyaningtyas, S.Gz. , memaparkan alasan mengapa telur menjadi prioritas utama dalam usulan tersebut.
“Telur adalah bahan pangan lokal yang terjangkau namun memiliki nilai gizi yang sangat tinggi. Protein hewani dari telur sangat mudah diserap oleh tubuh anak, dan kandungan asam aminonya yang lengkap terbukti secara klinis sangat efektif untuk memacu pertumbuhan tinggi badan serta perkembangan otak balita. Oleh karena itu, konsumsi dua butir sehari menjadi langkah intervensi yang sangat rasional,” jelas Rizke.
Selain protein hewani, pemberian suplemen Vitamin D juga menjadi sorotan tajam tim kesehatan. Timbul pertanyaan di tengah masyarakat, mengapa anak-anak masih membutuhkan suplemen ini mengingat Indonesia adalah negara tropis yang berlimpah sinar matahari.
Faktanya, berbagai penelitian kesehatan terbaru mengungkapkan bahwa angka defisiensi atau kekurangan Vitamin D pada balita di Indonesia ternyata masih sangat tinggi.
Menyikapi urgensi ini, Dokter Puskesmas Tabak Kanilan menegaskan peran krusial Vitamin D dalam pertumbuhan kerangka anak.
“Vitamin D adalah kunci utama dalam proses penyerapan kalsium. Seberapa banyak pun anak mengonsumsi makanan tinggi kalsium atau susu, nutrisi tersebut tidak akan bisa diserap secara maksimal oleh tulang jika asupan Vitamin D di dalam tubuhnya kurang. Kondisi inilah yang membuat tulang anak tidak dapat tumbuh optimal dan berujung pada risiko stunting,” paparnya.
Kabar baiknya, usulan intervensi berbasis medis ini mendapatkan respons yang sangat positif. Pemerintah di keenam desa tersebut telah menyambut baik dan menyetujui usulan kegiatan dari Puskesmas untuk dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Harapan bersamanya, program intervensi gizi pemberian telur dan suplementasi Vitamin D ini dapat segera dianggarkan dan direalisasikan secara penuh pada tahun 2027 mendatang.
Penanganan stunting sejatinya membutuhkan komitmen dan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat. Melalui kolaborasi solid antara tenaga kesehatan Puskesmas Tabak Kanilan dan pemerintah desa, langkah untuk mewujudkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan tangguh kini semakin nyata.