13 September 2026
WhatsApp Image 2026-08-28 at 09.07.30

Tabak Kanilan – Kesehatan jiwa adalah pilar penting dalam kesehatan masyarakat yang tak boleh diabaikan. Demi memastikan pemulihan dan mencegah kekambuhan, Puskesmas Tabak Kanilan terus menggencarkan program pelacakan dan pengawasan minum obat bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat. Sepanjang tahun 2026, tim nakes Puskesmas Tabak Kanilan konsisten turun langsung (jemput bola) ke lapangan memantau perkembangan pasien.

Mengenal ODGJ Berat & Pentingnya Pengawasan
ODGJ berat adalah kondisi gangguan mental yang persisten, seperti skizofrenia. Penderitanya sering mengalami penurunan fungsi kognitif, halusinasi, hingga kehilangan kontak dengan realitas, sehingga butuh pendampingan medis jangka panjang.
Kegiatan pelacakan ke rumah ini punya 3 tujuan utama:

  1. Memastikan kepatuhan pasien minum obat sesuai anjuran.
  2. Mendeteksi dini tanda-tanda kekambuhan perilaku.
  3. Memberikan edukasi dan dukungan psikososial kepada keluarga.
    Dengan terapi yang stabil, kualitas hidup pasien akan meningkat, beban keluarga jauh berkurang, dan pasien bisa kembali bersosialisasi secara mandiri. Jangkauan Pelayanan & Pendekatan Hati ke Hati
    Tahun 2026 ini, terdapat 20 ODGJ berat yang menjadi sasaran rutin di 9 desa wilayah kerja Puskesmas Tabak Kanilan. Kunjungan dilakukan rutin setiap triwulan.
    Pemegang Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Tabak Kanilan, Ns. Fenny Ayuningtyas, S.Kep , menjelaskan bahwa pendekatan langsung ini memberi dampak psikologis yang besar, meski punya tantangan tersendiri.

“Akses jalan antar desa sebenarnya sudah cukup baik, tapi tantangan di lapangan seringkali muncul ketika pasien sedang tidak ada di rumah karena mobilitasnya yang tinggi, atau ketika keluarga beralih ke pengobatan alternatif. Di sinilah pendekatan emosional diperlukan. Kami tidak sekadar mengecek obat, tapi berdialog dari hati ke hati agar pasien dan keluarga merasa dihargai, diperhatikan, dan tidak dikucilkan,” ungkap Ns. Fenny.

Menyambung hal tersebut, dr. Kevin Wewengkang, selaku dokter umum di Puskesmas Tabak Kanilan, menekankan pentingnya sinergi tenaga medis dan keluarga (sebagai Pengawas Minum Obat/PMO).

“Penanganan ODGJ berat tidak bisa hanya mengandalkan suplai obat dari puskesmas. Tantangan terbesarnya adalah rasa bosan, atau pasien merasa ‘sudah sembuh’ sehingga berhenti minum obat sepihak. Pengawasan rutin inilah jembatannya, karena konsistensi adalah kunci mutlak untuk mencegah kekambuhan,” papar dr. Kevin.

Kendala di Lapangan
Selain penolakan karena efek samping obat (seperti mengantuk), tim nakes sering menemui kendala nyata seperti:

  • Faktor PMO (Pengawas Minum Obat): Anggota keluarga yang merawat rata-rata sudah lansia (orang tua pasien) sehingga kerap lupa memberikan dosis obat.
  • Faktor Kepercayaan: Keluarga tiba-tiba menghentikan obat medis dan lebih memilih jalur pengobatan alternatif/spiritual.
  • Stigma: Keluarga masih malu dan cenderung mengurung atau menutupi kondisi pasien dari lingkungan.

Tips Sukses Mengawasi Minum Obat ODGJ
Untuk mengatasi hal di atas, Puskesmas Tabak Kanilan membagikan 5 tips bagi keluarga:
✅ Komunikasi Empatik: Jangan memaksa dengan amarah. Jelaskan pelan-pelan.
✅ Rutinitas Pasti: Berikan obat di jam yang sama setiap hari (misal: sehabis makan malam).
✅ Gunakan Kotak Obat: Sangat membantu PMO yang lansia agar tidak lupa atau dobel memberi obat.
✅ Jangan Hentikan Obat Sepihak: Jika ada efek samping, konsultasikan ke puskesmas, jangan langsung buang obatnya!
✅ Beri Apresiasi: Berikan pujian saat pasien mau minum obat agar ia merasa dihargai.

Mari bersama-sama hapus stigma dan dukung kesembuhan ODGJ. Kesehatan jiwa dimulai dari kepedulian kita semua